Sebuah postingan khas Sigit di milis EL-ITB pada tanggal 5 Juli 2007 ……..

el-er (dan pembaca tak sengaja lainnya):

1. Kepada Hendro Prastowo (EL-84): Lho, selama ini IA ITB kan sudah jadi kendaraan politik, sebesar atau sekecil apapun efeknya bagi si pengendara. Buat ITB dan alumni? Kita tentu mahfum–dan sepakat–bahwa di ITB sebenarnya rasa kealumnian itu, sebenarnya, tak pernah ada. Perasaan ini dibangkit-bangkitkan oleh elit kecil mirip cara seorang psikopat membangun perasaan rasis. Untuk apa, sih? Pertanyaan kita justru ada di sini.

2. Kemudian, perasaan kealumnian yang tak berdasar ini dicocok-cocokkan dengan moralitas pendidikan–yang sebenarnya tak pernah lebih dari kepentingan jangka pendek untuk pasang nama sekadar menambah curiculum vitae, atau tersedianya “baju lain” untuk menghadap pejabat ini itu–yang, tentu saja, untuk kepentingannya sendiri.

3. Maka, ketua IA-ITB lalu mesti menteri, atau ketua ikatan alumni jurusan ya mesti manajemen puncak BUMN, lalu pasang-pasang nama menteri, pejabat BUMN, pejabat-pejabat teras lainnya sebagai apalah; penasihat atau embuh apa lagi. Begitu saja terus. Bosan, sih. Tapi, ada lagu dangdut lama yang bilang bosan itu dosa.

4. Maka, kita memang terbiasa memilih dengan prasangka: bila ketua ikatan alumni, atau ikatan alumni jurusan, adalah golongan pejabat, maka (prasangkanya) akses ke “dana” akan lebih besar karena ada akses kekuasaan, dan kemudian bisa membantu jurusan atau mahasiswa lebih masif pula. Benarkah ini faktanya?

5. Sayang, faktanya sama sekali tak menarik. Saya dengar dari seorang teman, ikatan alumni jurusan konon
hanya menyumbang Rp 150-200 juta per tahun ke jurusannya di ITB. Besaran itu mungkin cuma dana lobi per bulan seorang dirut BUMN (tentu saja, kelompok BUMN yang kebetulan kaya, alias bukan golongan BUMN yang sakit perut sepanjang hidupnya, yang demikian biasanya “malu” kalau mau ikut Pemilu Ikatan Alumni). Bagi sebagian alumni (atau, hanya saya sendiri, he..he …) dana senilai itu tentu amat besar. Tapi, survey membuktikan bahwa bagi golongan pejabat–melalui bentuk apa sajalah, dana lobi, komisi, dan lain-lain–uang Rp 150-200 juta hanya komisi kecil untuk proyek-proyek kecil.

6. Maka, soal akses kekuasaan dan dana tadi–yang diilusikan diperoleh dengan cara-cara yang baik, dan dikelola secara baik untuk jurusan dan alumni–seluruhnya adalah prasangka. Bukankah di daftar pengurus Ikatan Alumni bertengger nama-nama pejabat dan manajemen korporasi besar, yang untuk urusan angka rupiah sumbangan ke jurusan di ITB itu sebenarnya nggak sebesar urusannya main golf dan main entah apa lagi? Lalu, untuk apa nama-nama mentereng itu dipasang? Tak ada fakta yang kemudian secara positif mendukung manfaatnya.

7. Sungguh unik bahwa alumni sekolah teknik pun ternyata tak terbiasa membaca fakta, kecuali memperkuat prasangka. Boleh jadi, faktanya memang paradoks: sekolah teknik yang menghasilkan “illusionist”. Nah, illusionist alumni ITB mungkin menarik kalau bikin acara humor campur horor campur sulapan teknologis di teve, agar ada acara teve yang agak menarik untuk ditonton.

8. Maka, yang Anda (Hendro Prastowo) pikirkan tentang “ikatan alumni” itu adalah terlampau mewah. Kecuali, bila kita mau memikirkannya kembali secara fundamental.

9. Kepada Budi Rahardjo (EL81). Tanpa mengurangi penghargaan saya kepada para peneliti, juga kepada para alumni yang masih setia di jalur “pemikiran” dan “teknologi”, beberapa “fragmen” diskusi informal–sesama teman saja–di EL82 dapat saya sampaikan. Secara kualitatif, saya dapat menyampaikan bahwa kepercayaan bahwa negeri ini masih bisa membangun teknologi sudah berada di bawah titik nol.

10. Sekadar contoh: Dwi Ananto Widjojo (Antok, EL82, yang sebenarnya sangat “engineer”) malah mengatakan bahwa kalau soal teknologi kita sudah nggak perlu bicara apa-apa, atau dengan kata lain “percuma”. Beberapa teman lain, yang sehari-hari juga bergelut di engineering, sama saja komentarnya bila ngomong “sebenarnya di teknologi ini kita bisa apa, sih”. Nyaris tak ada jalan sedikit pun untuk bisa berperan di bidang yang satu ini, untuk berbicara secara masif (sesuai dengan “takdir” teknologi itu sendiri) di tingkat dunia. Sekali lagi, tanpa mengurangi penghargaan saya kepada para peneliti, pemikir, dan mereka yang masih berkecimpung setia di jalur ini. Mulai jarum, peniti, sampai prosesor Intel dan AMD toh bukan karya para insinyur kita. Software? Silakan para peneliti menghitung karya-karya software kita yang masuk pasar. Nggak usah terlampau susah, bandingkan saja dengan MSOffice. He…he… Paling gampang kita mengutip Lorca, “Bukan aku yang salah, kau juga tidak. Bumi dan tanah yang berdosa”. Eh, nggak cocok juga, apa “pemerintah” sebagai bagian pengelola “bumi dan tanah” itu saja yang salah? Tampaknya, tidak.

11. Membantu seorang teman yang jurnalis Majalah Elektron HME-ITB(namanya Fiansul Syahnizam, EL82), saya pernah mewawancarai Iskandar Alisyahbana, kalau tak salah pada 1983 atau 1984. Mulai dengan dialektika Hegeliannya –yang membosankan–Iskandar menyampaikan teorinya: Keterbelakangan yang Menguntungkan. teori Iskandar itu untuk melihat posisi Indonesia (di segala aspek, tentu teknologi termaktub di sini). Iskandar menyatakan, meminjam Hegel, bahwa posisi Indonesia yang ter (atau “di”) belakang justru menguntungkan karena bisa “maju”. Tampaknya, waktu itu, teori ini cukup menarik. Untuk Indonesia? Hingga kini, teori Iskandar ternyata tak bermakna.

12. Apa boleh buat, teori Iskandar ternyata benar justru untuk ITB, lembaga yang justru pernah ia pimpin sendiri. ITB yang (setidaknya merasa) terdepan, kini mulai goyah. Mereka–kampus lain–yang dulu (setidaknya dianggap) terbelakang, dengan meyakinkan mulai menyalip. Tampaknya, justru untuk ITB, Iskandar tak keliru.

13. Sayang, Iskandar tak mengatakan bahwa ITB mesti harus menyadari bahwa posisi terdepan bukan menguntungkan. Seorang dosen pernah mengatakan kepada saya, “O, referensi kita (ITB) bukan nasional, tapi internasional”. Saya hanya ingin ia menunjukkan, tidak mengatakan, bahwa itu semua juga bukan hanya omong kosong. Tolong dicontohkan, bila benar “referensi” itu ada–tentu seorang dosen mahfum pengertian ini–apa saja yang dilakukan, seberapa besar effortnya, seberapa error-nya dari target … dan seterusnya. Saya khawatir error-nya tak pernah ada karena sebenarnya “me-referensi” itu tak pernah dilakukan. Sekali lagi, yang dikeluhkan, “dana”. Apa iya, sih, soal sebenarnya ada di situ? Apa iya kalau ada dana lalu naik kelas? Apa iya kalau ada dana lalu menang kontes robot, apa iya tidak ikut serta lomba robot dalam negeri tapi ikut di luar negeri untuk menaikkan rating ITB? Faktanya mana? Ini semua juga bagian dari “prasangka”. Mari kita lihat bidang lain.

14. Bagi ITB, dalam soal ini, saya sebenarnya masih percaya ITB bisa survive; namun [sementara ini] hanya untuk Fakultas Senirupa dan Desain. Memang, dibandingkan dengan Yogya (dan alumni ISI Yogyakarta) yang kian bersinar, FSRD-ITB mulai pula tampak sayup. Belum lagi ISI/STSI Denpasar yang juga terus kian mengkilat. Belum lagi, bahkan perupa-perupa di IKJ (sebagian kecil adalah alumni ITB) kian moncer pula. Namun, harapan untuk FSRD-ITB tampaknya masih ada. Mohon maaf bahwa banyak jurusan di ITB sebenarnya sudah kehilangan apa yang mereka percayai pernah mereka miliki pada masa-masa yang lalu.

15. Sama seperti ITB yang bisa menjadi sebagian miniatur Indonesia, saya merasa–setidaknya untuk saat ini–hanya “kesenian” yang bisa membuat negeri ini berbicara. Di tingkat dunia, di dunia mereka yang intens dan tak pernah meminta-minta apalagi kepada pemerintah, Tony Prabowo dan Goenawan Mohammad dikenal secara antusias melalui Opera Calon Arang. Masih ada banyak: Sardono, Bulan Djelantik, Retno Maruti, Made Bandem, Sapto Rahardjo, Rizaldi, FX Widayanto, Syahnagra, Suka Hardjana, Emha Ainun Nadjib dan Kiai Kanjeng, Heri Dono, Agus Suwage, Dadang Kristanto, Djoko Pekik dan para maestro yang sampai sekarang karya-karya mereka masih bertengger secara luar biasa di tingkat dunia seperti Afandi, Sudarso, Raden Saleh, Sudjojono, Hendra Gunawan, Widayat … sangat banyak … sangat banyak.

16. Mereka, para seniman itu, malang melintang di tingkat dunia. Dari dunia yang sepi: kesenian yang selalu ditinggalkan. Diam-diam, para seniman inilah yang telah sedikit memerdekakan kembali batin orang-orang yang kalah [seperti Indonesia ini]. Mohon maaf, berbeda dengan dunia teknologi yang tampak gemerlap, yang didukung oleh “pasar” dan “negara”: toh terbukti ada Menristek-nya, ada BPPT-nya, ada LIPI-nya, ada Puspitek-nya, ada ITB-nya, ada PAU-nya, ada BATAN-nya, ada LAPAN-nya, ada Herbarium terbesar di Asia Tenggara, ada LEN, ada PPGL, ada BMG, ada
Ikatan Ahli Elektroteknik Indonesia, Ikatan Ahli Geologi Indonesia, Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia, Persatuan Insinyur Indonesia, dan entah ikatan apa lagi … Laboratorium pertanian bertebaran dimana-mana, ada ikatan alumninya banyak sekali, dan seabreg lagi lembaga penelitian lainnya. Ngitungnya jumlah lembaganya aja susah, apalagi menghitung berapa keluhan per hari yang terbit dari lembaga-lembaga itu.

17. Teknologi tidak didukung? Silakan tengok, ada berapa laboratorum di berbagai universitas/institut/politeknik di Indonesia, dan tampaknya sepi-sepi saja. Di lab-lab itu yang ada paling ya petugas administrasi yang mengantuk menunggu sore tiba. Seluruh departemen pemerintah didorong untuk berteknologi, ber-ICT-ria, sampai seorang menteri dan presiden saja cemburu kepada Thukul Arawana soal “kembali ke laptop” yang kata mantan Menkominfo Sofyan Djalil secara kampungan: Thukul telah berjasa memperkenalkan email, laptop, pda … kepada masyarakat (sic!). Silakan tanya orang Bappenas (ini kan “perencanaan pembangunan”), apa iya pernah ngomong kesenian kecuali sekarang rame saja soal ICT? Tapi, mohon maaf kepada Bappenas, para seniman juga tak pernah butuh Bappenas. Tak pernah ada apapun–relatif dibanding keberadaan lembaga-lembaga negara bagi para insinyur dan scientist–yang ada bagi para seniman. Toh, sekali lagi, fakta proses dan output menyatakan berbeda. Hanya proses yang keras yang akan menghasilkan output yang berharga. Apa boleh buat.

17. Mereka, para seniman itu, punya tempat diskusi hanya di celah-celah pilar Bulaksumur, di pojok pasar Beringhardjo, di warung-warung kecil di Cikini, di pinggiran Prambanan, di lembah Merapi, di Dago Pojok, di Parang Tritis, di warung-warung di Ubud, berlatih di terik matahari dan berlarian dalam hujan, jalan kaki dan hanya naik ojeg kalau memang ada uang ke tempat-tempat latihan di lembah-lembah yang sulit di Solo dan Bali, di pinggir-pinggir hutan, malah ada yang berproses di kuburan karena tak ada tempat, pun tak pernah mengeluh, di garasi, di teras rumah orang yang kebetulan meminjamkan karena kesepian … namun mereka rajin membaca buku tebal-tebal … dan kemudian karya-karya mereka baik yang individu maupun yang barengan muncul di tingkat dunia. karya rupa, karya pentas, karya sastra … Karya-karya sastra kita sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa: bukan hanya karya Pram yang sempat dicalonkan untuk Hadiah Nobel. Tapi juga karya-karya Arifin, Goenawan, Putu … Dari dunia yang sepi inilah justru (saya merasa) Indonesia masih ada.

18. Mereka, para seniman itu, bukan hanya tak pernah mendapat semacam Menristek atau BPPT atau LIPI, atau Batan atau apapun! Sebagian dari mereka bahkan dipenjara dan dibunuh, atau diusir dari republik ini (Widji Thukul yang “dihilangkan”, Basuki Reksobowo dan kawan-kawan yang tak pernah bisa menengok kembali negerinya, atau “pulang” ke Indonesia pada usia uzur hanya untuk menjemput maut seperti Sitor Situmorang, ratusan seniman menjadi eksil di Eropa hingga waktu meninggal mereka …). Justru mereka yang terusir, yang dikalahkan, yang dihinakan, yang tak pernah meminta-minta itulah yang “mengisi” Indonesia. Apa iya di ITB ada yang pernah dicalonkan untuk mendapat Hadiah Nobel, atau karya-karyanya diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia semasif dunia sastra kita? Yang ada, mohon maaf, paling ya orderan penerjemahan dari penerbit, kemudian “bekerja sama” dengan mahasiswa saat menerjemahkannya, dan pasang nama di buku jadi.

19. Sangat banyak seniman Indonesia–yang tak pernah mengeluh itu–yang justru diam-diam menyatakan bahwa negeri ini masih ada. Tentunya, para sejarawan seni juga tak akan lupa bahwa Antonin Artaud dikenal sebagai seniman garda depan di Eropa justru setelah “belajar” kepada Bali, kemudian komposer Perancis menciptakan Tari Kecak di Bali, Peter Brooke sutradara kelas dunia yang bersama para seniman kita dan banyak seniman dari berbagai belahan dunia lain mementaskan teater dan film Mahabharata keliling dunia. Orang-orang Inggris, Belanda, Norwegia, AS, kini belajar menabuh gamelan di Solo dan membuka sekolah gamelan di negeri masing-masing … Ketika para industrialis yang didukung insinyur masih memperbincangkan Cina (dengan sedikit sewot), para seniman kita sudah berpameran di Cina. Para penari Indonesia juga sudah mengundang decak kagum di Cina, Tibet, Eropa, dan banyak tempat “dunia’ lainnya. Mereka yang meninggalkan MOMA, kini malah menusuk ke negeri yang konon bakal menjadi pusat ekonomi yang terkuat di dunia. Dari sudut Makasar, seniman kita sudah melanglang jagad dan dihargai secara sangat baik. Dari sudut-sudut Bali, Madura, Padang, Jawa Tengah, Jawa Barat … muncul karya-karya untuk dunia dan memperkenalkan local genius diam-diam. Untuk golongan kesenian yang “serius”, fakta kemampuan ini nyata. Untuk golongan yang “pop-industri”: lagu-lagu cengeng, band-band kosong, sinetron kampungan, iklan-iklan tak bermutu, talkshow yang tidak pernah talk, dan berita-berita periferi seperti infotainment, dangdut di kota dan kampung-kampung, faktanya, sudah menghidupi banyak orang dengan berbagai cara masing-masing …

20. Untuk Adi Indrayanto dan Budi Rahardjo yang sempat “ngeband” di IA-ITB di samping menjadi pakar elektroteknik, sekadar usul saja, kenapa nggak sesekali bikin yang agak “serius”? Bukankah kita pernah punya Musik Hantu (Slamet Abdul Syukur), Bedug Nuklir, AIB, lalu TAI dan banyak komposisi lainnya dari Harry Roesli, Kompi Susu (Djaduk), dan banyak sekali karya Tony Prabowo, Sapto Rahardjo, Rizaldi Siagian (kecuali untuk acara ulang tahun KOMPAS yang menurut saya adalah “komposisi bunuh diri Rizaldi”). Tentu, nggak usah sengotot para komposer (yang memang dunianya), sambil santai saja, dan mungkin hasilnya akan lebih dahsyat. Tapi, kalau Anda bikin musik, sedahsyat apapun, tampaknya tak akan meningkatkan nilai Anda sebagai peneliti di ITB. Nggak apa, kan? Selingan yang asyik. Tapi, musik Anda yang begitu nanti jangan dipentaskan di depan IA-ITB, karena telinga para alumni ITB tampaknya hanya kenal Krisdayanti, penyanyi AFI atau Indonesian Idol, atau pilih musik goyang dansa-dansi dan berkaraoke bersama Yuni Shara di layar melepas penat seusai golf. Maksimal ya mereka masih bisa (sedikit) mendengar Genesis, Yes, Vangelis, Rush, Pink Floyd, Rick Wakeman, Patrick Moraz, Bill Bruford, Peter Gabriel … seperti yang Anda mainkan. Dengan tepuk tangan yang dibuat-buat seusai setiap lagu. Itupun, dengan catatan, bahwa yang datang adalah alumni ITB yang semasa sekolah menengah dulu mereka agak sehat. Sayang, yang sehat selalu sedikit.

21. Maka, tampaknya benar, semboyan diam-diam pada masa kuliah yang lalu: “pasti lari teknologi dikejar, hati loedroek siapa tahu”.

sigit haryoto
alumni loedroek itb – el82