
Ini adalah kenangan terakhirku dengannya. Walau ingatanku agak fotografis, tapi lebih baik kutulis semua yang kuingat, karena belum tentu aku berumur lebih panjang. Saat itu, 16 September 2007, aku dijemput oleh om Totok, Tante Linda dan putri terkecil mereka, Mentari, dari tempat tinggalku di Depok. Di perjalanan menuju Cimanggu melalui Sawangan, kami banyak mengobrol tentang masa-masa rintis mereka di Depok beberapa tahun lalu. Kenangan tentang kota Depok yang masih sepi dan suram.
Sesampainya di rumahnya di Cimanggu, aku langsung diajak menuju kantornya yang letaknya berdekatan dengan rumah. Dan di sana aku me-linux-kan komputer sembari mengobrol kesana-sini bersama putranya, Bintang, om Anto, dan om Adam Bodong. Kami sempat membahas rencana tahun depan untuk membuat workshop PLC, SCADA ataupun HMI. Hingga siang hari, aku pulang ke rumahnya karena Masada sakit dan rewel. Saat itu dia sedang membaca buku atau mungkin katalog tentang ukiran-ukiran Mesir yang ditulis oleh penjajahnya, Perancis. Aku sempat bertanya apakah Belanda pernah melakukan hal yang sama pada Indonesia. Dan dia jawab bahwa Belanda lebih memahami budaya Indonesia daripada orang Indonesia sendiri. Beberapa profesor seni atau budaya dari Belanda pernah melakukan perjalanan merambah pedalaman Yogya demi mendapat kata-kata kuno, memasuki pasar-pasar Surabaya hanya demi mendapatkan parikan Kartolo. Sebagai alumni STEMA dan Loedroek, aku tidak heran kalau wawasan budayanya mungkin dimulai dari sana.
Obrolan berlanjut tentang kualitas ITB saat ini yang semakin merosot. Tentang alumni mudanya yang mendapat nilai A dan B hanya karena sering mengisi latihan soal dari HMTL tapi tidak mengerti apa substansi riil dari ilmu yang mereka pelajari. IP tinggi tapi tak punya soft skill. Tentang penelitiannya dengan temannya dari UGM dan ITS tentang kualitas mahasiswa elektro dari tiga kota ini. Dan tidak hanya kepadaku dia bercerita, sebuah tulisan juga pernah dia sampaikan di kolom-kolom koran dan majalah terkemuka.
Juga tentang pilihan hidup. Mungkin inilah inti dari pembicaraan kami sore itu. Dia bercerita bahwa dia hanya melakukan apa yang dia suka tanpa perduli gengsi atau materi. Rumah yang dia bangung berasal dari kayu-kayu bekas, kusen bekas rumah orang, bahkan lantai kamar mandinya juga dari keramik ikat yang banyak dijual di pinggiran jalan Sawangan. Dia mengajarkan ilmu transisi. Bahwa mahasiswa biasanya mengalami goncangan pilihan hidup di tingkat II atai III ketika mereka mulai bergesekan dengan kerasnya dunia nyata. Bahkan dia sendiri pernah melakukan penelitian yang diungkapkan di sebuah seminar di UGM. 3 tahun setelah lulus, mahasiswa mulai shock melihat kejamnya dunia dan mulai melakukan pemilihan jalan hidup sesuai nurani mereka. Dan pemilihan ini akan berulang pada saat 8 tahun setelah lulus, saat mereka yang memilih mulai bosan atau menyadari kesalahan pemilihan jalan hidupnya pada kesempatan yang pertama. Tapi entah bagaimana, apapun jalan hidup yang dipilih, pada jangka waktu tertentu, semua pilihan hidup akan memberikan tingkat kesejahteraan yang relatif setara.
“Jadi apapun bidang yang sampeyan tekuni saat ini, tetaplah menyimpan impian untuk masa depan, entah apapun itu, dan sisihkan waktu luang di malah hari untuk mewujudkannya sedikit demi sedikit. Hanya dengan transisi ini, maka masa depan yang sampeyan pingin akan terwujud.”
“Apa kamu gak tertarik masuk Indosat atau XL?” Aku jawab bahwa aku tidak tertarik, hanya tersisa pekerjaan administratif di sana. Tak ada sisa pekerjaan untuk keahlianku di sana. Tak ada tantangan, dan tak ada pengabdian pada ilmu dan kelebihan yang telah Tuhan berikan padaku. Di sana hanya ada pengabdian pada karir dan gaji.
Komunikasinya yang lihai, menyebutku, keponakan mudanya ini sebagai sampeyan adalah sebuah bentuk penghargaan tersendiri yang kurasakan. Tak heran jika om Adam Bodong sendiri memuji kepandaian komunikasi dan filsafatnya. Ah terlalu jauh dari kemampuanku saat ini.
Tapi kini kata-katanya itu selalu terngiang. Begitu juga dengan pemandangan, scene, bahkan langkahnya yang bolak balik ke kamar mandi untuk meludah sore hari itu tercetak jelas dalam ingatan fotografisku. Itulah pesan terakhirnya. Ilmu pertama dan terakhir yang diajarkannya padaku. Tentang pilihan hidup.
Dan ada saat yang membuatku agak menyesal. Malam harinya aku tidur di kamarnya sementara dia tidur di lantai di dekat jendela. Dengan kondisi paru-paru basahnya dan penyakit di jantungnya, harusnya aku malu….. Tapi semua memang takdir, tak akan bisa berubah.
Hanya saja, aku selalu teringat akan timnya di Metavisi Rekamulti, keluarganya yang membutuhkannya, bagaimana kelanjutan cerita hidup mereka tanpa bab berjudul Sigit Haryoto?

1 comment
Comments feed for this article
October 3, 2007 at 2:57 pm
sinta
nangis.
cuman itu yang bisa kulakukan waktu baca blog ini.
aku lagi di kamar kost. kamar mungil yanh muat ngepas, dan gak bisa dipindah2 barang2nya. teridri dari kasur, meja belajar, lemari dan meja komputer. sesek? sempit? itu yang sering orang bilang. tapi aku tetep sayang kamar ini. lho kok ngelantur??
yah, aku kaget, sedikit ngelindur ditambah sedikit substansi ngantuk waktu baca dua sms yang mengabarkan meninggalnya om totok. dari ibu dan dari adit. aku cuma bisa diam. merem bentar. mikir… baca smsnya lagi…baru sadar apa yang terjadi. berhubung otakku bener2 lagi blank. bacanya sekitar jam12an. baru tidur jam10 dan bakal sahur jam3-nya aku cuman bisa bereaksi ngeforward smsnya adit ke mas hendra trus nanyain rencana ortu ke bogor. trus tidur lagi… biasa sih… terasanya baru minggu kemaren waktu ketemu ortu di lawang. ngelihat ibu nangis. mungkin shock, mungkin bingung mikirin ponakannya juga. aku jadi ikutan nangis. selanjutnya berusaha jadi seperti ibu yang ‘nyelimur’ waktu aku nangis. aku nanya2 tentang kue lebaran. ga penting banget emang, tapi biasanya cara itu ampuh bikin aku gak kepikiran masalah yang bikin aku nangis…
ya, semoga om totok sekarang sudah tenang bareng eyang di sana…