
Pada hari 25 September 2007 yang lalu, aku dikejutkan bahwa om-ku yang paling muda, Sigit Haryoto telah berpulang ke Rahmatullah pada usia 44 tahun lebih 1 minggu. SMS dari ibu dan om Adam “Bodong” baru kubaca saat bangun sahur. Selama beberapa belas menit, aku dan istri terhenyak dan hanya bisa berpandang-pandangan. Betapa tidak, hari-hari kami beberapa bulan terakhir cukup dekat dengan keluarganya. Bahkan dua minggu sebelumnya, kami sekeluarga sempat nginep di rumahnya di Cimanggu, Bogor. Tak dinyana, itulah saat terakhir kami bertemu. Dan hampir tiap hari sebelumnya, aku selalu berbalas sms dengannya.
Ada banyak kelebihan dan kekurangan pada tiap manusia. Tapi marilah kita kenang sisi positif dari sisi manusia unik yang satu ini. Kenangan tertuaku tentangnya adalah waktu aku masih kecil, mungkin belum TK, dan om ku baru masuk kuliah di Teknik Elektro ITB tahun 82. Aku sering melihatnya main gitar di pojok ruang tamu rumah Eyang di Lawang, Malang. Rambutnya yang keriting dan lagu Ebiet yang sering dinyanyikannya. Pertemuan berikut ketika aku dan sepupu-sepupu main ke Bandung dan Jakarta saat aku di kelas 3 atau 4 SD. Saat itu rambut keritingnya semakin panjang. Dan itulah saat pertama aku bertemu Tante Linda, yang saat itu masih berstatus calon istri Om Totok. Mereka sedang asyik membahas desain baju kreasi Tante Linda yang akan dimuat di salah satu majalah. Peristiwa itu terjadi di rumah Om Didik di Bandung.
Sebagai salah satu anggota keluarga yang paling sering absen untuk datang ke Lawang di saat Lebaran, Om Totok dan keluarga adalah spesimen saudara yang sangat susah ditemui. Ada beberapa Lebaran dimana kami semua bisa berkumpul dengan lengkap. Dan Om Totok lekat dengan ciri khas rambut keriting panjang, langkah yang lebar dan asap rokok.
Setiap datang dalam kunjungannya ke Lumajang, Om Totok selalu membawa oleh-oleh berbau ITB. Entah kotak pensil, patung Ganesha kecil atau sekedar stiker. Sepertinya inilah yang membuat otakku tersihir dengan ITB. Bahkan di salah satu Lebaran di saat aku akan UMPTN, Om Totok berkomentar, “Di Indonesia hanya ada satu perguruan tinggi, yaitu ITB. Dan hanya ada satu jurusan di ITB, yaitu Elektro”. Dan, terdamparlah aku di jurusan yang sama dengan jurusan yang om Totok dan om Didik masuki. Hanya, aku yakin otakku tak sehebat mereka. Mereka lulus dengan status cum laude, dan aku lulus dengan status lolos.
Beberapa arsip email di inbox menunjukkan bahwa aktifitas email pertama kami dimulai ketika dia masih aktif di Gatra, dan aku masih duduk di tingkat II. Saat itu dia baru saja menginstall mail server dan menawarkan proyekan web dan penelitian. Tetapi semua tidak jadi. Tapi kami jadi sering bertemu di kampus. Dia dan Tante Linda juga terkadang mengunjungiku di tempat kost, yang ternyata dekat dengan tempat kostnya dulu di Cisitu Lama. Begitu juga saat aku terkapar di RS Boromeus karena tifus dan demam berdarah. Dan ketika aku sembuh, dia masih mengunjungiku di tempat kost, dan tertawa melihat buku-buku Kalkulus-ku. “Dulu yang kubaca malah Karl Marx,” katanya sambil tertawa.
Sosialisme, mungkin itu yang mendasar banyak pemikiran dan aksinya. Aku takut mendengar Marxisme saat itu, hingga aku mulai kecanduan membaca Tetralogi-nya Pramoedya Ananta Toer dan Dunia Sophie. Walau aku tak mengakuinya, aku seperti harus mengakui bahwa mungkin aku juga mulai tertarik dengan sosialisme… Tapi aku selalu berusaha mengimbanginya dengan ajaran-ajaran sayap kanan. Ha, bahkan Einstein-pun pernah berkata, “Left is beautiful!”
Nasionalisme mungkin lebih tepat. Sepanjang yang kutahu, dia jarang sekali menggunakan istilah bahasa Inggris, bahkan di source code yang dia bikin sekalipun. Tapi nanti kita baca beberapa kliping yang berhasil kutemukan, dan semuanya orisinal adalah hasil tulisannya. Kecintaannya pada budaya Indonesia, terungkap dengan pasti dalam aksinya sebagai seniman dan budayawan. Seniman? Budayawan? Yah, jangan kaget, itulah om ku, lulusan Elektro ITB arus kuat tapi berteman baik dengan Sujiwo Tejo yang dulu anak sipil, Hary Roesli, Cak Nur, dan banyak budayawan lain. Tulisan-tulisannya, caci makinya di milis IAE ITB, semua kusisihkan dalam satu folder tersendiri.
Ingatanku hanya sedikit fotografis, aku juga tak lebih mengenalnya dibanding teman-temannya, tapi aku mencoba menyelami cita-citanya. Kepergiannya yang terlalu cepat, membuatku merasa bahwa ada yang terhenti di tengah jalan. Perusahaannya, kantornya, keluarganya… dan yang paling penting, cita-citanya untuk bangsa ini. Mungkin dengan tulisan-tulisan ini, aku menyisihkan pojok dunia maya untuk secuil cerita tentang dirinya, agar mereka yang akan hidup di masa mendatang mengenalnya, dan mungkin juga akan mengikuti langkah dan meneruskan usahanya.
Bagai Minke dalam Tetralogi Pulau Buru, kepergiannya dari dunia ini terlalu mendadak. Walau aku akan selalu bisa mengunjungi makamnya, di sebelah rumahnya, kalau aku mengunjungi Tante Linda di Bogor, walau aku bisa membaca semua koleksi bukunya, tapi aku tak bisa lagi berdiskusi dengannya, aku tak bisa lagi berusaha memahami sudut pandangnya atas buku-buku itu.
Tapi kini serangan jantung telah menjadi gerbangnya menuju alam berikut. Mungkin di sana dia menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya selama ini, tapi di alam ini, aku masih merasa bahwa ada yang putus di tengah jalan… sesuatu yang belum sempat dikatakannya, diajarkannya… Dengan segala kelebihan dan kekuranganmu, biarlah aku mengenang sisi baikmu, dan menceritakannya pada mereka.

No comments yet
Comments feed for this article