<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Webnya orang biasa-biasa saja</title>
	<atom:link href="http://ikawisnuw.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ikawisnuw.wordpress.com</link>
	<description>Menulislah sebelum engkau ditulisi</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Oct 2007 08:45:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ikawisnuw.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Webnya orang biasa-biasa saja</title>
		<link>http://ikawisnuw.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ikawisnuw.wordpress.com/osd.xml" title="Webnya orang biasa-biasa saja" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ikawisnuw.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>[EL-ITB] &#8211;?&#8211;</title>
		<link>http://ikawisnuw.wordpress.com/2007/10/02/el-itb/</link>
		<comments>http://ikawisnuw.wordpress.com/2007/10/02/el-itb/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Oct 2007 08:41:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ikawisnuw</dc:creator>
				<category><![CDATA[SH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ikawisnuw.wordpress.com/2007/10/02/el-itb/</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah postingan khas Sigit di milis EL-ITB pada tanggal 5 Juli 2007 &#8230;&#8230;.. el-er (dan pembaca tak sengaja lainnya): 1. Kepada Hendro Prastowo (EL-84): Lho, selama ini IA ITB kan sudah jadi kendaraan politik, sebesar atau sekecil apapun efeknya bagi si pengendara. Buat ITB dan alumni? Kita tentu mahfum&#8211;dan sepakat&#8211;bahwa di ITB sebenarnya rasa kealumnian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ikawisnuw.wordpress.com&amp;blog=1822066&amp;post=10&amp;subd=ikawisnuw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebuah postingan khas Sigit di milis EL-ITB pada tanggal 5 Juli 2007 &#8230;&#8230;..</p>
<p>el-er (dan pembaca tak sengaja lainnya):</p>
<p>1. Kepada Hendro Prastowo (EL-84): Lho, selama ini IA ITB kan sudah jadi kendaraan politik, sebesar atau sekecil apapun efeknya bagi si pengendara. Buat ITB dan alumni? Kita tentu mahfum&#8211;dan sepakat&#8211;bahwa di ITB sebenarnya rasa kealumnian itu, sebenarnya, tak pernah ada. Perasaan ini dibangkit-bangkitkan oleh elit kecil mirip cara seorang psikopat membangun perasaan rasis. Untuk apa, sih? Pertanyaan kita justru ada di sini.<br />
<span id="more-10"></span><br />
2. Kemudian, perasaan kealumnian yang tak berdasar ini dicocok-cocokkan dengan moralitas pendidikan&#8211;yang sebenarnya tak pernah lebih dari kepentingan jangka pendek untuk pasang nama sekadar menambah curiculum vitae, atau tersedianya &#8220;baju lain&#8221; untuk menghadap pejabat ini itu&#8211;yang, tentu saja, untuk kepentingannya sendiri.</p>
<p>3. Maka, ketua IA-ITB lalu mesti menteri, atau ketua ikatan alumni jurusan ya mesti manajemen puncak BUMN, lalu pasang-pasang nama menteri, pejabat BUMN, pejabat-pejabat teras lainnya sebagai apalah; penasihat atau embuh apa lagi. Begitu saja terus. Bosan, sih. Tapi, ada lagu dangdut lama yang bilang bosan itu dosa.</p>
<p>4. Maka, kita memang terbiasa memilih dengan prasangka: bila ketua ikatan alumni, atau ikatan alumni jurusan, adalah golongan pejabat, maka (prasangkanya) akses ke &#8220;dana&#8221; akan lebih besar karena ada akses kekuasaan, dan kemudian bisa membantu jurusan atau mahasiswa lebih masif pula. Benarkah ini faktanya?</p>
<p>5. Sayang, faktanya sama sekali tak menarik. Saya dengar dari seorang teman, ikatan alumni jurusan konon<br />
hanya menyumbang Rp 150-200 juta per tahun ke jurusannya di ITB. Besaran itu mungkin cuma dana lobi per bulan seorang dirut BUMN (tentu saja, kelompok BUMN yang kebetulan kaya, alias bukan golongan BUMN yang sakit perut sepanjang hidupnya, yang demikian biasanya &#8220;malu&#8221; kalau mau ikut Pemilu Ikatan Alumni). Bagi sebagian alumni (atau, hanya saya sendiri, he..he &#8230;) dana senilai itu tentu amat besar. Tapi, survey membuktikan bahwa bagi golongan pejabat&#8211;melalui bentuk apa sajalah, dana lobi, komisi, dan lain-lain&#8211;uang Rp 150-200 juta hanya komisi kecil untuk proyek-proyek kecil.</p>
<p>6. Maka, soal akses kekuasaan dan dana tadi&#8211;yang diilusikan diperoleh dengan cara-cara yang baik, dan dikelola secara baik untuk jurusan dan alumni&#8211;seluruhnya adalah prasangka. Bukankah di daftar pengurus Ikatan Alumni bertengger nama-nama pejabat dan manajemen korporasi besar, yang untuk urusan angka rupiah sumbangan ke jurusan di ITB itu sebenarnya nggak sebesar urusannya main golf dan main entah apa lagi? Lalu, untuk apa nama-nama mentereng itu dipasang? Tak ada fakta yang kemudian secara positif mendukung manfaatnya.</p>
<p>7. Sungguh unik bahwa alumni sekolah teknik pun ternyata tak terbiasa membaca fakta, kecuali memperkuat prasangka. Boleh jadi, faktanya memang paradoks: sekolah teknik yang menghasilkan &#8220;illusionist&#8221;. Nah, illusionist alumni ITB mungkin menarik kalau bikin acara humor campur horor campur sulapan teknologis di teve, agar ada acara teve yang agak menarik untuk ditonton.</p>
<p>8. Maka, yang Anda (Hendro Prastowo) pikirkan tentang &#8220;ikatan alumni&#8221; itu adalah terlampau mewah. Kecuali, bila kita mau memikirkannya kembali secara fundamental.</p>
<p>9. Kepada Budi Rahardjo (EL81). Tanpa mengurangi penghargaan saya kepada para peneliti, juga kepada para alumni yang masih setia di jalur &#8220;pemikiran&#8221; dan &#8220;teknologi&#8221;, beberapa &#8220;fragmen&#8221; diskusi informal&#8211;sesama teman saja&#8211;di EL82 dapat saya sampaikan. Secara kualitatif, saya dapat menyampaikan bahwa kepercayaan bahwa negeri ini masih bisa membangun teknologi sudah berada di bawah titik nol.</p>
<p>10. Sekadar contoh: Dwi Ananto Widjojo (Antok, EL82, yang sebenarnya sangat &#8220;engineer&#8221;) malah mengatakan bahwa kalau soal teknologi kita sudah nggak perlu bicara apa-apa, atau dengan kata lain &#8220;percuma&#8221;. Beberapa teman lain, yang sehari-hari juga bergelut di engineering, sama saja komentarnya bila ngomong &#8220;sebenarnya di teknologi ini kita bisa apa, sih&#8221;. Nyaris tak ada jalan sedikit pun untuk bisa berperan di bidang yang satu ini, untuk berbicara secara masif (sesuai dengan &#8220;takdir&#8221; teknologi itu sendiri) di tingkat dunia. Sekali lagi, tanpa mengurangi penghargaan saya kepada para peneliti, pemikir, dan mereka yang masih berkecimpung setia di jalur ini. Mulai jarum, peniti, sampai prosesor Intel dan AMD toh bukan karya para insinyur kita. Software? Silakan para peneliti menghitung karya-karya software kita yang masuk pasar. Nggak usah terlampau susah, bandingkan saja dengan MSOffice. He&#8230;he&#8230; Paling gampang kita mengutip Lorca, &#8220;Bukan aku yang salah, kau juga tidak. Bumi dan tanah yang berdosa&#8221;. Eh, nggak cocok juga, apa &#8220;pemerintah&#8221; sebagai bagian pengelola &#8220;bumi dan tanah&#8221; itu saja yang salah? Tampaknya, tidak.</p>
<p>11. Membantu seorang teman yang jurnalis Majalah Elektron HME-ITB(namanya Fiansul Syahnizam, EL82), saya pernah mewawancarai Iskandar Alisyahbana, kalau tak salah pada 1983 atau 1984. Mulai dengan dialektika Hegeliannya &#8211;yang membosankan&#8211;Iskandar menyampaikan teorinya: Keterbelakangan yang Menguntungkan. teori Iskandar itu untuk melihat posisi Indonesia (di segala aspek, tentu teknologi termaktub di sini). Iskandar menyatakan, meminjam Hegel, bahwa posisi Indonesia yang ter (atau &#8220;di&#8221;) belakang justru menguntungkan karena bisa &#8220;maju&#8221;. Tampaknya, waktu itu, teori ini cukup menarik. Untuk Indonesia? Hingga kini, teori Iskandar ternyata tak bermakna.</p>
<p>12. Apa boleh buat, teori Iskandar ternyata benar justru untuk ITB, lembaga yang justru pernah ia pimpin sendiri. ITB yang (setidaknya merasa) terdepan, kini mulai goyah. Mereka&#8211;kampus lain&#8211;yang dulu (setidaknya dianggap) terbelakang, dengan meyakinkan mulai menyalip. Tampaknya, justru untuk ITB, Iskandar tak keliru.</p>
<p>13. Sayang, Iskandar tak mengatakan bahwa ITB mesti harus menyadari bahwa posisi terdepan bukan menguntungkan. Seorang dosen pernah mengatakan kepada saya, &#8220;O, referensi kita (ITB) bukan nasional, tapi internasional&#8221;. Saya hanya ingin ia menunjukkan, tidak mengatakan, bahwa itu semua juga bukan hanya omong kosong. Tolong dicontohkan, bila benar &#8220;referensi&#8221; itu ada&#8211;tentu seorang dosen mahfum pengertian ini&#8211;apa saja yang dilakukan, seberapa besar effortnya, seberapa error-nya dari target &#8230; dan seterusnya. Saya khawatir error-nya tak pernah ada karena sebenarnya &#8220;me-referensi&#8221; itu tak pernah dilakukan. Sekali lagi, yang dikeluhkan, &#8220;dana&#8221;. Apa iya, sih, soal sebenarnya ada di situ? Apa iya kalau ada dana lalu naik kelas? Apa iya kalau ada dana lalu menang kontes robot, apa iya tidak ikut serta lomba robot dalam negeri tapi ikut di luar negeri untuk menaikkan rating ITB? Faktanya mana? Ini semua juga bagian dari &#8220;prasangka&#8221;. Mari kita lihat bidang lain.</p>
<p>14. Bagi ITB, dalam soal ini, saya sebenarnya masih percaya ITB bisa survive; namun [sementara ini] hanya untuk Fakultas Senirupa dan Desain. Memang, dibandingkan dengan Yogya (dan alumni ISI Yogyakarta) yang kian bersinar, FSRD-ITB mulai pula tampak sayup. Belum lagi ISI/STSI Denpasar yang juga terus kian mengkilat. Belum lagi, bahkan perupa-perupa di IKJ (sebagian kecil adalah alumni ITB) kian moncer pula. Namun, harapan untuk FSRD-ITB tampaknya masih ada. Mohon maaf bahwa banyak jurusan di ITB sebenarnya sudah kehilangan apa yang mereka percayai pernah mereka miliki pada masa-masa yang lalu.</p>
<p>15. Sama seperti ITB yang bisa menjadi sebagian miniatur Indonesia, saya merasa&#8211;setidaknya untuk saat ini&#8211;hanya &#8220;kesenian&#8221; yang bisa membuat negeri ini berbicara. Di tingkat dunia, di dunia mereka yang intens dan tak pernah meminta-minta apalagi kepada pemerintah, Tony Prabowo dan Goenawan Mohammad dikenal secara antusias melalui Opera Calon Arang. Masih ada banyak: Sardono, Bulan Djelantik, Retno Maruti, Made Bandem, Sapto Rahardjo, Rizaldi, FX Widayanto, Syahnagra, Suka Hardjana, Emha Ainun Nadjib dan Kiai Kanjeng, Heri Dono, Agus Suwage, Dadang Kristanto, Djoko Pekik dan para maestro yang sampai sekarang karya-karya mereka masih bertengger secara luar biasa di tingkat dunia seperti Afandi, Sudarso, Raden Saleh, Sudjojono, Hendra Gunawan, Widayat &#8230; sangat banyak &#8230; sangat banyak.</p>
<p>16. Mereka, para seniman itu, malang melintang di tingkat dunia. Dari dunia yang sepi: kesenian yang selalu ditinggalkan. Diam-diam, para seniman inilah yang telah sedikit memerdekakan kembali batin orang-orang yang kalah [seperti Indonesia ini]. Mohon maaf, berbeda dengan dunia teknologi yang tampak gemerlap, yang didukung oleh &#8220;pasar&#8221; dan &#8220;negara&#8221;: toh terbukti ada Menristek-nya, ada BPPT-nya, ada LIPI-nya, ada Puspitek-nya, ada ITB-nya, ada PAU-nya, ada BATAN-nya, ada LAPAN-nya, ada Herbarium terbesar di Asia Tenggara, ada LEN, ada PPGL, ada BMG, ada<br />
Ikatan Ahli Elektroteknik Indonesia, Ikatan Ahli Geologi Indonesia, Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia, Persatuan Insinyur Indonesia, dan entah ikatan apa lagi &#8230; Laboratorium pertanian bertebaran dimana-mana, ada ikatan alumninya banyak sekali, dan seabreg lagi lembaga penelitian lainnya. Ngitungnya jumlah lembaganya aja susah, apalagi menghitung berapa keluhan per hari yang terbit dari lembaga-lembaga itu.</p>
<p>17. Teknologi tidak didukung? Silakan tengok, ada berapa laboratorum di berbagai universitas/institut/politeknik di Indonesia, dan tampaknya sepi-sepi saja. Di lab-lab itu yang ada paling ya petugas administrasi yang mengantuk menunggu sore tiba. Seluruh departemen pemerintah didorong untuk berteknologi, ber-ICT-ria, sampai seorang menteri dan presiden saja cemburu kepada Thukul Arawana soal &#8220;kembali ke laptop&#8221; yang kata mantan Menkominfo Sofyan Djalil secara kampungan: Thukul telah berjasa memperkenalkan email, laptop, pda &#8230; kepada masyarakat (sic!). Silakan tanya orang Bappenas (ini kan &#8220;perencanaan pembangunan&#8221;), apa iya pernah ngomong kesenian kecuali sekarang rame saja soal ICT? Tapi, mohon maaf kepada Bappenas, para seniman juga tak pernah butuh Bappenas. Tak pernah ada apapun&#8211;relatif dibanding keberadaan lembaga-lembaga negara bagi para insinyur dan scientist&#8211;yang ada bagi para seniman. Toh, sekali lagi, fakta proses dan output menyatakan berbeda. Hanya proses yang keras yang akan menghasilkan output yang berharga. Apa boleh buat.</p>
<p>17. Mereka, para seniman itu, punya tempat diskusi hanya di celah-celah pilar Bulaksumur, di pojok pasar Beringhardjo, di warung-warung kecil di Cikini, di pinggiran Prambanan, di lembah Merapi, di Dago Pojok, di Parang Tritis, di warung-warung di Ubud, berlatih di terik matahari dan berlarian dalam hujan, jalan kaki dan hanya naik ojeg kalau memang ada uang ke tempat-tempat latihan di lembah-lembah yang sulit di Solo dan Bali, di pinggir-pinggir hutan, malah ada yang berproses di kuburan karena tak ada tempat, pun tak pernah mengeluh, di garasi, di teras rumah orang yang kebetulan meminjamkan karena kesepian &#8230; namun mereka rajin membaca buku tebal-tebal &#8230; dan kemudian karya-karya mereka baik yang individu maupun yang barengan muncul di tingkat dunia. karya rupa, karya pentas, karya sastra &#8230; Karya-karya sastra kita sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa: bukan hanya karya Pram yang sempat dicalonkan untuk Hadiah Nobel. Tapi juga karya-karya Arifin, Goenawan, Putu &#8230; Dari dunia yang sepi inilah justru (saya merasa) Indonesia masih ada.</p>
<p>18. Mereka, para seniman itu, bukan hanya tak pernah mendapat semacam Menristek atau BPPT atau LIPI, atau Batan atau apapun! Sebagian dari mereka bahkan dipenjara dan dibunuh, atau diusir dari republik ini (Widji Thukul yang &#8220;dihilangkan&#8221;, Basuki Reksobowo dan kawan-kawan yang tak pernah bisa menengok kembali negerinya, atau &#8220;pulang&#8221; ke Indonesia pada usia uzur hanya untuk menjemput maut seperti Sitor Situmorang, ratusan seniman menjadi eksil di Eropa hingga waktu meninggal mereka &#8230;). Justru mereka yang terusir, yang dikalahkan, yang dihinakan, yang tak pernah meminta-minta itulah yang &#8220;mengisi&#8221; Indonesia. Apa iya di ITB ada yang pernah dicalonkan untuk mendapat Hadiah Nobel, atau karya-karyanya diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia semasif dunia sastra kita? Yang ada, mohon maaf, paling ya orderan penerjemahan dari penerbit, kemudian &#8220;bekerja sama&#8221; dengan mahasiswa saat menerjemahkannya, dan pasang nama di buku jadi.</p>
<p>19. Sangat banyak seniman Indonesia&#8211;yang tak pernah mengeluh itu&#8211;yang justru diam-diam menyatakan bahwa negeri ini masih ada. Tentunya, para sejarawan seni juga tak akan lupa bahwa Antonin Artaud dikenal sebagai seniman garda depan di Eropa justru setelah &#8220;belajar&#8221; kepada Bali, kemudian komposer Perancis menciptakan Tari Kecak di Bali, Peter Brooke sutradara kelas dunia yang bersama para seniman kita dan banyak seniman dari berbagai belahan dunia lain mementaskan teater dan film Mahabharata keliling dunia. Orang-orang Inggris, Belanda, Norwegia, AS, kini belajar menabuh gamelan di Solo dan membuka sekolah gamelan di negeri masing-masing &#8230; Ketika para industrialis yang didukung insinyur masih memperbincangkan Cina (dengan sedikit sewot), para seniman kita sudah berpameran di Cina. Para penari Indonesia juga sudah mengundang decak kagum di Cina, Tibet, Eropa, dan banyak tempat &#8220;dunia&#8217; lainnya. Mereka yang meninggalkan MOMA, kini malah menusuk ke negeri yang konon bakal menjadi pusat ekonomi yang terkuat di dunia. Dari sudut Makasar, seniman kita sudah melanglang jagad dan dihargai secara sangat baik. Dari sudut-sudut Bali, Madura, Padang, Jawa Tengah, Jawa Barat &#8230; muncul karya-karya untuk dunia dan memperkenalkan local genius diam-diam. Untuk golongan kesenian yang &#8220;serius&#8221;, fakta kemampuan ini nyata. Untuk golongan yang &#8220;pop-industri&#8221;: lagu-lagu cengeng, band-band kosong, sinetron kampungan, iklan-iklan tak bermutu, talkshow yang tidak pernah talk, dan berita-berita periferi seperti infotainment, dangdut di kota dan kampung-kampung, faktanya, sudah menghidupi banyak orang dengan berbagai cara masing-masing &#8230;</p>
<p>20. Untuk Adi Indrayanto dan Budi Rahardjo yang sempat &#8220;ngeband&#8221; di IA-ITB di samping menjadi pakar elektroteknik, sekadar usul saja, kenapa nggak sesekali bikin yang agak &#8220;serius&#8221;? Bukankah kita pernah punya Musik Hantu (Slamet Abdul Syukur), Bedug Nuklir, AIB, lalu TAI dan banyak komposisi lainnya dari Harry Roesli, Kompi Susu (Djaduk), dan banyak sekali karya Tony Prabowo, Sapto Rahardjo, Rizaldi Siagian (kecuali untuk acara ulang tahun KOMPAS yang menurut saya adalah &#8220;komposisi bunuh diri Rizaldi&#8221;). Tentu, nggak usah sengotot para komposer (yang memang dunianya), sambil santai saja, dan mungkin hasilnya akan lebih dahsyat. Tapi, kalau Anda bikin musik, sedahsyat apapun, tampaknya tak akan meningkatkan nilai Anda sebagai peneliti di ITB. Nggak apa, kan? Selingan yang asyik. Tapi, musik Anda yang begitu nanti jangan dipentaskan di depan IA-ITB, karena telinga para alumni ITB tampaknya hanya kenal Krisdayanti, penyanyi AFI atau Indonesian Idol, atau pilih musik goyang dansa-dansi dan berkaraoke bersama Yuni Shara di layar melepas penat seusai golf. Maksimal ya mereka masih bisa (sedikit) mendengar Genesis, Yes, Vangelis, Rush, Pink Floyd, Rick Wakeman, Patrick Moraz, Bill Bruford, Peter Gabriel &#8230; seperti yang Anda mainkan. Dengan tepuk tangan yang dibuat-buat seusai setiap lagu. Itupun, dengan catatan, bahwa yang datang adalah alumni ITB yang semasa sekolah menengah dulu mereka agak sehat. Sayang, yang sehat selalu sedikit.</p>
<p>21. Maka, tampaknya benar, semboyan diam-diam pada masa kuliah yang lalu: &#8220;pasti lari teknologi dikejar, hati loedroek siapa tahu&#8221;.</p>
<p>sigit haryoto<br />
alumni loedroek itb &#8211; el82</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ikawisnuw.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ikawisnuw.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ikawisnuw.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ikawisnuw.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ikawisnuw.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ikawisnuw.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ikawisnuw.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ikawisnuw.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ikawisnuw.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ikawisnuw.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ikawisnuw.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ikawisnuw.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ikawisnuw.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ikawisnuw.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ikawisnuw.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ikawisnuw.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ikawisnuw.wordpress.com&amp;blog=1822066&amp;post=10&amp;subd=ikawisnuw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ikawisnuw.wordpress.com/2007/10/02/el-itb/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e6feccf732620bedefd04368f78f065b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ikawisnuw</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Krisna Fathan Kalimasada</title>
		<link>http://ikawisnuw.wordpress.com/2007/10/02/krisna-fathan-kalimasada/</link>
		<comments>http://ikawisnuw.wordpress.com/2007/10/02/krisna-fathan-kalimasada/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Oct 2007 06:43:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ikawisnuw</dc:creator>
				<category><![CDATA[Masada]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ikawisnuw.wordpress.com/2007/10/02/krisna-fathan-kalimasada/</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ikawisnuw.wordpress.com&amp;blog=1822066&amp;post=7&amp;subd=ikawisnuw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ikawisnuw.wordpress.com&amp;blog=1822066&amp;post=7&amp;subd=ikawisnuw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ikawisnuw.wordpress.com/2007/10/02/krisna-fathan-kalimasada/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e6feccf732620bedefd04368f78f065b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ikawisnuw</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sebuah sore di Cimanggu</title>
		<link>http://ikawisnuw.wordpress.com/2007/10/02/sebuah-sore-di-cimanggu/</link>
		<comments>http://ikawisnuw.wordpress.com/2007/10/02/sebuah-sore-di-cimanggu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Oct 2007 02:28:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ikawisnuw</dc:creator>
				<category><![CDATA[SH]]></category>
		<category><![CDATA[Cimanggu]]></category>
		<category><![CDATA[Sigit Haryoto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ikawisnuw.wordpress.com/2007/10/02/sebuah-sore-di-cimanggu/</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah kenangan terakhirku dengannya. Walau ingatanku agak fotografis, tapi lebih baik kutulis semua yang kuingat, karena belum tentu aku berumur lebih panjang. Saat itu, 16 September 2007, aku dijemput oleh om Totok, Tante Linda dan putri terkecil mereka, Mentari, dari tempat tinggalku di Depok. Di perjalanan menuju Cimanggu melalui Sawangan, kami banyak mengobrol tentang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ikawisnuw.wordpress.com&amp;blog=1822066&amp;post=4&amp;subd=ikawisnuw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://ikawisnuw.files.wordpress.com/2007/10/dsc_0017_small.jpg?w=490" alt="dsc_0017_small.jpg" /></p>
<p>Ini adalah kenangan terakhirku dengannya. Walau ingatanku agak fotografis, tapi lebih baik kutulis semua yang kuingat, karena belum tentu aku berumur lebih panjang. Saat itu, 16 September 2007, aku dijemput oleh om Totok, Tante Linda dan putri terkecil mereka, Mentari, dari tempat tinggalku di Depok. Di perjalanan menuju Cimanggu melalui Sawangan, kami banyak mengobrol tentang masa-masa rintis mereka di Depok beberapa tahun lalu. Kenangan tentang kota Depok yang masih sepi dan suram.<br />
<span id="more-4"></span><br />
Sesampainya di rumahnya di Cimanggu, aku langsung diajak menuju kantornya yang letaknya berdekatan dengan rumah. Dan di sana aku me-linux-kan komputer sembari mengobrol kesana-sini bersama putranya, Bintang, om Anto, dan om Adam Bodong. Kami sempat membahas rencana tahun depan untuk membuat workshop PLC, SCADA ataupun HMI. Hingga siang hari, aku pulang ke rumahnya karena Masada sakit dan rewel. Saat itu dia sedang membaca buku atau mungkin katalog tentang ukiran-ukiran Mesir yang ditulis oleh penjajahnya, Perancis. Aku sempat bertanya apakah Belanda pernah melakukan hal yang sama pada Indonesia. Dan dia jawab bahwa Belanda lebih memahami budaya Indonesia daripada orang Indonesia sendiri. Beberapa profesor seni atau budaya dari Belanda pernah melakukan perjalanan merambah pedalaman Yogya demi mendapat kata-kata kuno, memasuki pasar-pasar Surabaya hanya demi mendapatkan parikan Kartolo. Sebagai alumni STEMA dan Loedroek, aku tidak heran kalau wawasan budayanya mungkin dimulai dari sana.</p>
<p>Obrolan berlanjut tentang kualitas ITB saat ini yang semakin merosot. Tentang alumni mudanya yang mendapat nilai A dan B hanya karena sering mengisi latihan soal dari HMTL tapi tidak mengerti apa substansi riil dari ilmu yang mereka pelajari. IP tinggi tapi tak punya soft skill. Tentang penelitiannya dengan temannya dari UGM dan ITS tentang kualitas mahasiswa elektro dari tiga kota ini. Dan tidak hanya kepadaku dia bercerita, sebuah tulisan juga pernah dia sampaikan di kolom-kolom koran dan majalah terkemuka.</p>
<p>Juga tentang pilihan hidup. Mungkin inilah inti dari pembicaraan kami sore itu. Dia bercerita bahwa dia hanya melakukan apa yang dia suka tanpa perduli gengsi atau materi. Rumah yang dia bangung berasal dari kayu-kayu bekas, kusen bekas rumah orang, bahkan lantai kamar mandinya juga dari keramik ikat yang banyak dijual di pinggiran jalan Sawangan. Dia mengajarkan ilmu transisi. Bahwa mahasiswa biasanya mengalami goncangan pilihan hidup di tingkat II atai III ketika mereka mulai bergesekan dengan kerasnya dunia nyata. Bahkan dia sendiri pernah melakukan penelitian yang diungkapkan di sebuah seminar di UGM. 3 tahun setelah lulus, mahasiswa mulai shock melihat kejamnya dunia dan mulai melakukan pemilihan jalan hidup sesuai nurani mereka. Dan pemilihan ini akan berulang pada saat 8 tahun setelah lulus, saat mereka yang memilih mulai bosan atau menyadari kesalahan pemilihan jalan hidupnya pada kesempatan yang pertama. Tapi entah bagaimana, apapun jalan hidup yang dipilih, pada jangka waktu tertentu, semua pilihan hidup akan memberikan tingkat kesejahteraan yang relatif setara.</p>
<p>&#8220;Jadi apapun bidang yang sampeyan tekuni saat ini, tetaplah menyimpan impian untuk masa depan, entah apapun itu, dan sisihkan waktu luang di malah hari untuk mewujudkannya sedikit demi sedikit. Hanya dengan transisi ini, maka masa depan yang sampeyan pingin akan terwujud.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa kamu gak tertarik masuk Indosat atau XL?&#8221; Aku jawab bahwa aku tidak tertarik, hanya tersisa pekerjaan administratif di sana. Tak ada sisa pekerjaan untuk keahlianku di sana. Tak ada tantangan, dan tak ada pengabdian pada ilmu dan kelebihan yang telah Tuhan berikan padaku. Di sana hanya ada pengabdian pada karir dan gaji.</p>
<p>Komunikasinya yang lihai, menyebutku, keponakan mudanya ini sebagai sampeyan adalah sebuah bentuk penghargaan tersendiri yang kurasakan. Tak heran jika om Adam Bodong sendiri memuji kepandaian komunikasi dan filsafatnya. Ah terlalu jauh dari kemampuanku saat ini.</p>
<p>Tapi kini kata-katanya itu selalu terngiang. Begitu juga dengan pemandangan, scene, bahkan langkahnya yang bolak balik ke kamar mandi untuk meludah sore hari itu tercetak jelas dalam ingatan fotografisku. Itulah pesan terakhirnya. Ilmu pertama dan terakhir yang diajarkannya padaku. Tentang pilihan hidup.</p>
<p>Dan ada saat yang membuatku agak menyesal. Malam harinya aku tidur di kamarnya sementara dia tidur di lantai di dekat jendela. Dengan kondisi paru-paru basahnya dan penyakit di jantungnya, harusnya aku malu&#8230;.. Tapi semua memang takdir, tak akan bisa berubah.</p>
<p>Hanya saja, aku selalu teringat akan timnya di Metavisi Rekamulti, keluarganya yang membutuhkannya, bagaimana kelanjutan cerita hidup mereka tanpa bab berjudul Sigit Haryoto?</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ikawisnuw.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ikawisnuw.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ikawisnuw.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ikawisnuw.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ikawisnuw.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ikawisnuw.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ikawisnuw.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ikawisnuw.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ikawisnuw.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ikawisnuw.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ikawisnuw.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ikawisnuw.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ikawisnuw.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ikawisnuw.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ikawisnuw.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ikawisnuw.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ikawisnuw.wordpress.com&amp;blog=1822066&amp;post=4&amp;subd=ikawisnuw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ikawisnuw.wordpress.com/2007/10/02/sebuah-sore-di-cimanggu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e6feccf732620bedefd04368f78f065b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ikawisnuw</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ikawisnuw.files.wordpress.com/2007/10/dsc_0017_small.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">dsc_0017_small.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Selamat jalan Om Totok</title>
		<link>http://ikawisnuw.wordpress.com/2007/10/02/selamat-jalan-om-totok/</link>
		<comments>http://ikawisnuw.wordpress.com/2007/10/02/selamat-jalan-om-totok/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Oct 2007 02:27:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ikawisnuw</dc:creator>
				<category><![CDATA[SH]]></category>
		<category><![CDATA[Cimanggu]]></category>
		<category><![CDATA[Sigit Haryoto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ikawisnuw.wordpress.com/2007/10/02/selamat-jalan-om-totok/</guid>
		<description><![CDATA[Pada hari 25 September 2007 yang lalu, aku dikejutkan bahwa om-ku yang paling muda, Sigit Haryoto telah berpulang ke Rahmatullah pada usia 44 tahun lebih 1 minggu. SMS dari ibu dan om Adam &#8220;Bodong&#8221; baru kubaca saat bangun sahur. Selama beberapa belas menit, aku dan istri terhenyak dan hanya bisa berpandang-pandangan. Betapa tidak, hari-hari kami [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ikawisnuw.wordpress.com&amp;blog=1822066&amp;post=3&amp;subd=ikawisnuw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src='http://ikawisnuw.files.wordpress.com/2007/10/dsc_0120_small.jpg?w=490' alt='dsc_0120_small.jpg' /></p>
<p>Pada hari 25 September 2007 yang lalu, aku dikejutkan bahwa om-ku yang paling muda, Sigit Haryoto telah berpulang ke Rahmatullah pada usia 44 tahun lebih 1 minggu. SMS dari ibu dan om Adam &#8220;Bodong&#8221; baru kubaca saat bangun sahur. Selama beberapa belas menit, aku dan istri terhenyak dan hanya bisa berpandang-pandangan. Betapa tidak, hari-hari kami beberapa bulan terakhir cukup dekat dengan keluarganya. Bahkan dua minggu sebelumnya, kami sekeluarga sempat nginep di rumahnya di Cimanggu, Bogor. Tak dinyana, itulah saat terakhir kami bertemu. Dan hampir tiap hari sebelumnya, aku selalu berbalas sms dengannya.<br />
<span id="more-3"></span><br />
Ada banyak kelebihan dan kekurangan pada tiap manusia. Tapi marilah kita kenang sisi positif dari sisi manusia unik yang satu ini. Kenangan tertuaku tentangnya adalah waktu aku masih kecil, mungkin belum TK, dan om ku baru masuk kuliah di Teknik Elektro ITB tahun 82. Aku sering melihatnya main gitar di pojok ruang tamu rumah Eyang di Lawang, Malang. Rambutnya yang keriting dan lagu Ebiet yang sering dinyanyikannya. Pertemuan berikut ketika aku dan sepupu-sepupu main ke Bandung dan Jakarta saat aku di kelas 3 atau 4 SD. Saat itu rambut keritingnya semakin panjang. Dan itulah saat pertama aku bertemu Tante Linda, yang saat itu masih berstatus calon istri Om Totok. Mereka sedang asyik membahas desain baju kreasi Tante Linda yang akan dimuat di salah satu majalah. Peristiwa itu terjadi di rumah Om Didik di Bandung.</p>
<p>Sebagai salah satu anggota keluarga yang paling sering absen untuk datang ke Lawang di saat Lebaran, Om Totok dan keluarga adalah spesimen saudara yang sangat susah ditemui. Ada beberapa Lebaran dimana kami semua bisa berkumpul dengan lengkap. Dan Om Totok lekat dengan ciri khas rambut keriting panjang, langkah yang lebar dan asap rokok.</p>
<p>Setiap datang dalam kunjungannya ke Lumajang, Om Totok selalu membawa oleh-oleh berbau ITB. Entah kotak pensil, patung Ganesha kecil atau sekedar stiker. Sepertinya inilah yang membuat otakku tersihir dengan ITB. Bahkan di salah satu Lebaran di saat aku akan UMPTN, Om Totok berkomentar, &#8220;Di Indonesia hanya ada satu perguruan tinggi, yaitu ITB. Dan hanya ada satu jurusan di ITB, yaitu Elektro&#8221;. Dan, terdamparlah aku di jurusan yang sama dengan jurusan yang om Totok dan om Didik masuki. Hanya, aku yakin otakku tak sehebat mereka. Mereka lulus dengan status cum laude, dan aku lulus dengan status lolos.</p>
<p>Beberapa arsip email di inbox menunjukkan bahwa aktifitas email pertama kami dimulai ketika dia masih aktif di Gatra, dan aku masih duduk di tingkat II. Saat itu dia baru saja menginstall mail server dan menawarkan proyekan web dan penelitian. Tetapi semua tidak jadi. Tapi kami jadi sering bertemu di kampus. Dia dan Tante Linda juga terkadang mengunjungiku di tempat kost, yang ternyata dekat dengan tempat kostnya dulu di Cisitu Lama. Begitu juga saat aku terkapar di RS Boromeus karena tifus dan demam berdarah. Dan ketika aku sembuh, dia masih mengunjungiku di tempat kost, dan tertawa melihat buku-buku Kalkulus-ku. &#8220;Dulu yang kubaca malah Karl Marx,&#8221; katanya sambil tertawa.</p>
<p>Sosialisme, mungkin itu yang mendasar banyak pemikiran dan aksinya. Aku takut mendengar Marxisme saat itu, hingga aku mulai kecanduan membaca Tetralogi-nya Pramoedya Ananta Toer dan Dunia Sophie. Walau aku tak mengakuinya, aku seperti harus mengakui bahwa mungkin aku juga mulai tertarik dengan sosialisme&#8230; Tapi aku selalu berusaha mengimbanginya dengan ajaran-ajaran sayap kanan. Ha, bahkan Einstein-pun pernah berkata, &#8220;Left is beautiful!&#8221;</p>
<p>Nasionalisme mungkin lebih tepat. Sepanjang yang kutahu, dia jarang sekali menggunakan istilah bahasa Inggris, bahkan di source code yang dia bikin sekalipun. Tapi nanti kita baca beberapa kliping yang berhasil kutemukan, dan semuanya orisinal adalah hasil tulisannya. Kecintaannya pada budaya Indonesia, terungkap dengan pasti dalam aksinya sebagai seniman dan budayawan. Seniman? Budayawan? Yah, jangan kaget, itulah om ku, lulusan Elektro ITB arus kuat tapi berteman baik dengan Sujiwo Tejo yang dulu anak sipil, Hary Roesli, Cak Nur, dan banyak budayawan lain. Tulisan-tulisannya, caci makinya di milis IAE ITB, semua kusisihkan dalam satu folder tersendiri.</p>
<p>Ingatanku hanya sedikit fotografis, aku juga tak lebih mengenalnya dibanding teman-temannya, tapi aku mencoba menyelami cita-citanya. Kepergiannya yang terlalu cepat, membuatku merasa bahwa ada yang terhenti di tengah jalan. Perusahaannya, kantornya, keluarganya&#8230; dan yang paling penting, cita-citanya untuk bangsa ini. Mungkin dengan tulisan-tulisan ini, aku menyisihkan pojok dunia maya untuk secuil cerita tentang dirinya, agar mereka yang akan hidup di masa mendatang mengenalnya, dan mungkin juga akan mengikuti langkah dan meneruskan usahanya.</p>
<p>Bagai Minke dalam Tetralogi Pulau Buru, kepergiannya dari dunia ini terlalu mendadak. Walau aku akan selalu bisa mengunjungi makamnya, di sebelah rumahnya,  kalau aku mengunjungi Tante Linda di Bogor, walau aku bisa membaca semua koleksi bukunya, tapi aku tak bisa lagi berdiskusi dengannya, aku tak bisa lagi berusaha memahami sudut pandangnya atas buku-buku itu.</p>
<p>Tapi kini serangan jantung telah menjadi gerbangnya menuju alam berikut. Mungkin di sana dia menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya selama ini, tapi di alam ini, aku masih merasa bahwa ada yang putus di tengah jalan&#8230; sesuatu yang belum sempat dikatakannya, diajarkannya&#8230; Dengan segala kelebihan dan kekuranganmu, biarlah aku mengenang sisi baikmu, dan menceritakannya pada mereka.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ikawisnuw.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ikawisnuw.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ikawisnuw.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ikawisnuw.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ikawisnuw.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ikawisnuw.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ikawisnuw.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ikawisnuw.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ikawisnuw.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ikawisnuw.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ikawisnuw.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ikawisnuw.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ikawisnuw.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ikawisnuw.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ikawisnuw.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ikawisnuw.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ikawisnuw.wordpress.com&amp;blog=1822066&amp;post=3&amp;subd=ikawisnuw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ikawisnuw.wordpress.com/2007/10/02/selamat-jalan-om-totok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e6feccf732620bedefd04368f78f065b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ikawisnuw</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ikawisnuw.files.wordpress.com/2007/10/dsc_0120_small.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">dsc_0120_small.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
